Saturday, 30 June 2012

Pengaruh Teknologi Terhadap Budaya Organisasi



Pengertian Budaya Organisasi

Budaya organisasi adalah nilai, norma, keyakinan, sikap dan asumsi yang merupakan bentuk bagaimana orang-orang dalam organisasi berperilaku dan melakukan sesuatu hal yang bisa dilakukan serta berkaitan dengan aspek subjektif dari seseorang dalam memahami apa yang terjadi dalam organisasi. Hal ini dapat memberikan pengaruh dalam nilai-nilai dan norma-norma yang meliputi semua kegiatan bisnis, yang mungkin terjadi tanpa disadari.

Dalam buku Handbook of Human Resource Management Practice oleh Michael Armstrong pada tahun 2009, budaya organisasi atau budaya perusahaan adalah nilai, norma, keyakinan, sikap dan asumsi yang merupakan bentuk bagaimana orang-orang dalam organisasi berperilaku dan melakukan sesuatu hal yang bisa dilakukan. Nilai adalah apa yang diyakini bagi orang-orang dalam berperilaku dalam organisasi. Norma adalah aturan yang tidak tertulis dalam mengatur perilaku seseorang.

Namun, kebudayaan dapat menjadi pengaruh yang signifikan pada perilaku seseorang. Berikut adalah beberapa pengertian dari budaya organisasi :
1.     Budaya organisasi mengacu pada hubungan yang unik dari norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan dan cara berperilaku yang menjadi ciri bagaimana kelompok dan individu dalam menyelesaikan sesuatu.
2.    Budaya merupakan sistem aturan informal yang menjelaskan bagaimana seseorang berperilaku dalam sebagian besar waktunya.
3.   Budaya Organisasi adalah sebuah pola asumsi dasar yang diciptakan, ditemukan atau dikembangkan oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan dalam  berperilaku dalam organisasi. Dimana akan diturunkan kepada anggota baru sebagai cara bagaimana melihat, berpikir, dan merasa dalam organisasi.
4.       Budaya adalah keyakinan, sikap dan nilai-nilai yang dipegang dan ada dalam sebuah organisasi.

 Fungsi - Fungsi Budaya

Budaya memiliki sejumlah fungsi dalam organisasi, diantaranya :

            1. Batas
Budaya berperan sebagai penentu batas-batas; artinya, budaya menciptakan perbedaan atau yang membuat unik suatu organisasi dan membedakannya dengan organisasi lainnya.

            2. Identitas
Budaya memuat rasa identitas suatu organisasi.

            3. Komitmen
Budaya memfasilitasi lahirnya komitmen terhadap sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan individu.

            4. Stabilitas
      Budaya meningkatkan stabilitas sistem sosial karena budaya adalah perekat sosial yang membantu menyatukan organisasi dengan cara menyediakan standar mengenai apa yang sebaiknya dikatakan dan dilakukan karyawan.

5. Pembentuk sikap dan perilaku
      Budaya bertindak sebagai mekanisme alasan yang masuk akal (sense-making) serta kendali yang menuntun dan membentuk sikap dan perilaku karyawan.

Pengaruh Teknologi Terhadap Kreatifitas Individu dan Team
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran, komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb.
Pada saat ini banyak bermunculan produk TIK dalam membantu proses pembelajaran yang telah mengubah wajah pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas, dalam hal ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan khususnya dalam menyikapi perkembangan TIK, karena kemandirian merupakan kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya.
Sehingga pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan inovasi karya-karya baru yang orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK akan diperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain.

Sumber :
(Tgl 30/06/12, Pukul 19:55)
(Tgl 30/06/12, Pukul 20:05)
 (Tgl 30/06/12, Pukul 20:10)




Monday, 4 June 2012

Kelompok Dalam Organisasi


Definisi Kelompok

Kelompok merupakan salah satu konsep penting dalam sosiologi, namun belum ada suatu kesepakatan mengenai definisi suatu kelompok. Tapi ada suatu definisi kelompok yang lebih disenangi oleh para sosiolog yang mengartikan istilah kelompok itu adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaannya dan saling berinteraksi (Paul B Horton) maka bila ada 2 orang yang antri di toilet tidak bisa disebut suatu kelompok, tetapi bila orang tersebut melakukan suatu interaksi dalam bentuk apapun, maka bisa disebut sebagai kelompok.Karena manusia itu memang spesial tidak seperti makhluk Tuhan lainnya,misalnya saja bayi tidak bisa hidup tanpa bantuan orang tuanya,karena manusia itu mempunyai suatu akal , pikiran , naluri , perasaan , hasrat , dan juga nafsu , tidak seperti burung yang terkurung dalam sangkar.

Jenis dan Fungsi Kelompok

 Jenis-jenis kelompok dapat dibedakan berdasarkan klasifikasi. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, maka ada jenis kelompok formal dan kelompok tidak formal. Kelompok formal adalah sub unit sah dari organisasi yang telah ditetapkan anggaran dasar organisasi atau oleh suatu ketetapan manajemen. Jadi kelompok ini sengaja dibentuk untuk memenuhi tugas yang nyata guna mendukung keseluruhan tugas organisasi. Kelompok informal adalah kelompok yang muncul sebagai upaya pemenuhan kebutuhan inividu dengan mengembangkan tata hubungan dengan anggota lain dalam organisasi. Kelompok informal hanya dapat terbentuk apabila lokasi fisik anggota-anggotanya, sifat pekerjaan, dan jadwal kerja memungkinkan untuk terbentuknya kelompok. Oleh karena itu kelompok informal muncul dari kombinasi antara fakor-faktor formal dan kebutuhan manusia sebagai anggota-anggotanya.
Pada dasarnya fungsi kelompok dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu fungsi organisasi formal dan fungsi kebutuhan individual. Artinya suatu kelompok tertentu dapat memenuhi kebutuhan fungsi organisasi formal dan kebutuhan pribadi.

Pengalaman Pribadi Dalam Suatu Kelompok
            
           Pengalaman pribadi saya dalam suatu kelompok atau organisasi adalah menjadi panitia acara turnamen sepak bola. Awalnya orangtua saya yang berencana membuat acara turnamen sepak bola antar RT. Karena dulu banyak sekali orang yang bermain sepak bola di dekat lapangan daerah rumah saya, mulai dari anak balita sampai anak remaja. Dengan melihat situasi dan kondisi seperti ini, ayah saya mulai berencana untuk membuat sebuah turnamen. Lalu kakak dan saya sendiri dijadikan panitia dalam acara tersebut. Setelah dilaksanakannya turnamen ini, banyak sekali orang-orang yang berminat untuk mengikuti turnamen ini. Turnamen ini mempunyai aturan-aturan tertentu, contohnya dari minimal-maksimal umur peserta yang boleh mengikuti acara ini. Saya sangat senang sekali menjadi panitia dalam acara tersebut karena ini merupakan salah satu pengalaman pribadi yang tidak terlupakan sampai saat ini dalam suatu kelompok atau organisasi.

Hambatan, Solusi, dan Pemecahannya
             
      Hambatan dalam acara ini adalah sulitnya mencari dana tambahan untuk menambah memeriahkan acara ini. Dan juga banyaknya kerusuhan yang terjadi antar pemain serta sulitnya menjaga kebersihan di lingkungan. Namun solusi dan pemecahan dalam hambatan yang ayah, kakak, dan saya lakukan adalah dalam masalah dana, kami meminta sumbangan antar warga, dalam masalah kerusuhan, kami telah menyewa wasit untuk mengatur acara pertandingan, dan dalam masalah kebersihan, kami sebelumnya memberi himbauan kepada seluruh peserta dan penonton untuk menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya. Jadi dalam mengikuti sebuah organisasi harus mempunyai solusi dan pemecahannya dalam mengatasi suatu hambatan-hambatan yang terjadi.

Referensi :
1. http://fisip.uns.ac.id/blog/yonie/2010/05/11/pengertian-kelompok/
2. http://cdma.wordpress.com/2007/04/25/jenis-dan-fungsi-kelompok/
    (Tgl 04/06/2012, pkl 21:23 WIB)
.


Tuesday, 27 March 2012

Perbedaan Kekuasaan dan Wewenang

Kekuasaan adalah kemampuan untuk menggunakan pengaruh pada orang lain; artinya kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku individu atau kelompok. Kekuasaan juga berarti kemampuan untuk mempengaruhi individu, kelompok, keputusan, ataukejadian. Kekuasaan tidak sama dengan wewenang, wewenang tanpa kekuasaan ataukekuasaan tanpa wewenang akan menyebabkan konflik dalam organisasi.

Secara umum ada dua bentuk kekuasaan:
1. Kekuasaan pribadi, kekuasaan yang didapat dari para pengikut dan didasarkan
pada seberapa besar pengikut mengagumi, respek dan terikat pada pemimpin.

2. Kekuasaan posisi, kekuasaan yang didapat dari wewenang formal organisasi,
besarnya kekuasaan ini tergantung pada besarnya pendelegasian orang yang
menduduki posisi tersebut.

Kekuasaan berkaitan erat dengan pengaruh (influence) yaitu tindakan atau contoh tingkah laku yang menyebabkan perubahan sikap atau tingkah laku orang lain atau kelompok.
Kekuasaan tidak begitu saja diperoleh individu, ada 6 sumber kekuasaan menurut John
Brench dan Bertram Raven, yaitu :
1. Kekuasaan balas jasa (reward power)
Kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seseorang pemberi pengaruh untuk
memberi penghargaan pada orang lain yang dipengaruhi untuk melaksanakan
perintah. (bonus sampai senioritas atau persahabatan)

2. Kekuasaan paksaan (coercive power)
Kekuasaan berdasarkan pada kemampuan orang untuk menghukum orang yang
dipengaruhi kalau tidak memenuhi perintah atau persyaratan. (teguran sampai
hukuman).

3. Kekuasaan sah (legitimate power)
Kekuasaan formal yang diperoleh berdasarkan hukum atau aturan yang timbul
dari pengakuan seseorang yang dipengaruhi bahwa pemberi pengaruh berhak
menggunakan pengaruh sampai pada batas tertentu.

4. Kekuasaan keahlian (expert power)
Kekuasaan yang didasarkan pada persepsi atau keyakinan bahwa pemberi
pengaruh mempunyai keahlian relevan atau pengetahuan khusus yang tidak
dimiliki oleh orang yang dipengaruhi. (professional atau tenaga ahli).

5. Kekuasaan panutan (referent power)
Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang didasarkan pada
indentifikasi pemberi pengaruh yang menjadi contoh atau panutan bagi yang
dipengaruhi. (karisma, keberanian, simpatik dan lain-lain).

6. Kekuasaan Pengendalian Informasi (Control Of Information power)
Berasal dari pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain, ini dilakukan dengan
pemberian atau penahanan informasi yang dibutuhkan.

Wewenang adalah hak untuk memerintah orang lain untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu agar tujuan dapat tercapai.

Ada dua pandangan yang menjelaskan wewenang formal (resmi):
1. Pandangan klasik (classical view)
Wewenang datang dari tingkat paling atas, kemudian secara bertahap diturunkan
ke tingkat yang lebih bawah

2. Pandangan penerimaan (acceptance view)

Sudut pandang wewenang adalah penerima perintah, bukannya pemberi perintah.
Pandangan ini dimulai dengan pengamatan bahwa tidak semua perintah dipatuhi
oleh penerima perintah. Penerima perintah akan menentukan apakah akan
menerima perintah atau tidak.

Menurut Chester I. Bernard seseorang akan memenuhi perintah apabila dipenuhi empat
kondisi berikut:
· Dia dapat memahami komunikasi
· Dia percaya bahwa perintah tersebut tidak bertentangan dengan tujuan organisasi
· Perintah tersebut tidak bertentangan dengan kepentingan secara keseluruhan, dan
· Secara fisik dan mental mampu menjalankan perintah tersebut.

Wewenang Lini, Staff dan Fungsional
· Wewenang Lini
Dimiliki oleh manajer lini yang mengambil keputusan untuk mencapai tujuan organisasi
secara langsung. Dalam bagan organisasi, wewenang lini digambarkan oleh garis yang
menghubungkan manajemen puncak sampai ke manajemen tingkat bawah.

· Wewenang Staff
Dilakukan oleh orang atau kelompok orang yang memberikan jasa atau nasehat kepada
manajer lini. Staff ahli biasannya merupakan istilah yang menggambarkan posisi tersebut.
Staff ahli memberikan nasehat berdasarkan keahlian, pengalamana, atau riset dan analisis
yang diperlukan, termasuk bantuan pelaksanaan kebijakan, monitor, dan pengendalian.

· Wewenang Fungsional
Kadang organisasi mempunyai manajer atau departemen yang mempunyai wewenang
fungsional. fungsi keuangan dan akuntansi sering diberikan wewenang fungsional.

Sumber :
http://ratriptyas.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/28070/BAB_2_WEWENANG%2CKEKUASAAN_%26_PENGARUH.pdf (27 Maret, 2012 Pkl 15.14)

Peranan Staf dalam Organisasi

DEFINISI STAF

Sekelompok orang yg bekerja sama membantu seorang ketua dl mengelola sesuatu, dan bagian organisasi yg tidak mempunyai hak memberikan perintah, tetapi mem-punyai hak membantu pimpinan, memberikan nasihat, dsb.

JENIS-JENIS STAF :

1. Staf khusus, staf ini memiliki tugas untuk memberikan saran, konsultasi, bantuan serta melayani seluruh lini dan unsur organisasi. sifat khusus staf spesialis yaitu:
a) Terbatas dalam pemberian masihat dan bantuan serta tidak mempunyai kekuasaan terhadap elemen-elemen dalam organisasi.
b) Nasihat dan bantuannya diberikan kepada seluruh bagian dan seksi.
c) Nasihat dan bantuannya hanya untuk lapangan tertentu.

2. Staf pribadi, memiliki tugas memberikan saran, bantuan, dan jasa kepada manajer. staf ini sering di sebut asisten yang mempunyai tugas bermaca-macam untuk satu atasan dan biasanya bersifat generalis. umumnya ini diperbantukan manajer tingkat tinggi (top manajer). staf pribadi ini dibagi menjadi dua, yaitu :

a) Line assistant yaitu assistant yang berada pada masing-masing fungsional yang ada dalam perusahaan, dan dia memberikan nasehat dan bantuannya pada bidang menurut fungsinya.

b) Staf asistens, disebut juga asisten manajer atau asisten director yang berposisi sebagai lini atau hubungan lini, yaitu hubungan orang-orang dan komponen-komponen yang bertanggung jawab atas tercapainya tujuan perusahaan serta mempunyai wewenang mengambil keputusan akhir/terakhir mengenai hal yang berhubungan dengan tujuan.

Staf asisten ini meliputi :
·         1. Asisten to dan executive assintants memberi bantuan kepada pucuk pimpinan dalam suatu tugas pimpinan tertentu dan memberikan segala hal yang di perlukan.
·        2. Administrative assistants memberikan layanan kepada seorang pimpinan dalam soal kecil administrasi.
·         special assistants memberikan layanan dalam bidang keahliannya kepada pimpinan.

TUGAS-TUGAS STAF
     
Staf tugasnya memberi layanan dan nasehat kepada manajer dalam pelaksanaan suatu kegiatan. Staf di dalam melaksanakan fungsinya tidak secara langsung terlibat dalam kegiatan utama perusahaan atau organisasi.

Tugas-tugas yang dapat diberikan kapada karyawan staff antara lain adalah sebagai berikut :
  • Mengumpulkan data (fakta)
  • Menginterpretasikan data (fakta)
  • Mengusulkan alternatif tindakan
  • Mendiskusikan rencana-rencana yang sedang dipikirkan dengan berbagai hak dan memperoleh kesepakatan mereka atau memperoleh alasan mengapa rencana tersebut ditolak.
  • Mempersiapkan instruksi-instruksi tertulis dan dokumon-dokumen lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang merupakan realisasi dari rencana yang telah ditetapkan.
  • Mengamati kegiatan-kegiatan operasional dan kondisi-kondisi yang dihadapi untuk rnengadakan apakah instruksi-instruksi telah dijalankan dengan baik dan apakah instruksi tersebut menghambat atau mempelancar proses pencapaian tujuan.
  • Mengusahakan pertukaran informasi antara para petugas-petugas oporasional mongenai pelaksanaan untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan koordinasi.
  • Meberikan infrmasi dan nasihat kepada petugas-petugas oporasional mengenai pelaksanaan tugas–tugas yang telah didelegasikan kepada mereka.
          Kualifikasi yang harus dipenuhi oleh orang yang duduk sebagai taf yaitu dengan menganalisa melalui metode kuisioner, metode observasi, metode wawancara atau dengan menggabungkan ketiganya.
  • Baishline mengajukan enam pokok kualifikasi yang harus dipengaruhi oleh seorang staf yaitu :
    1. Pengetahuan yang luas tempat diamana dia bekerja
    2. Punya sifat kesetiaan tenaga yang besar, kesehatan yang baik, inisiatif, pertimbangan yang baik dan kepandaian yang ramah.
    3. Punya semangat kerja sama yang ramah
    4. Kestabilan emosi dan tingkat laku yang sopan.
    5. Kesederhanaan
    6. Kemauan baik dan optimis
  • Wewenang Staf ( Staff authority )
    Yaitu hak para staf atau spesialis untuk menyarankan, memberi rekomendasi konsultasi pada personalia lini.
    Hal yang perlu diperintahkan dalam mendelegasikan suatu kegiatan kepada orang yang ditunjuk yaitu:
    1. Menetapkan dan memberikan tujuan serta kegiatan yang akan dilakukan
    2. Melimpahkan sebagian wewenangnya kepada orang yang di tunjuk
    3. Orang yang ditunjuk mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan agar tercapainya tujuan.
    4. Menerima hasil pertanggung jawaban bawahan atas kegiatan yang dilimpahkan.





Sumber :
http://ahmar-abyad.blogspot.com/2011/04/jenis-jenis-staf.html (27 Maret 2012, 14.30)



                                                                                                                                                               

Saturday, 12 November 2011

Teori Organisasi Umum

I. Latar Belakang

Manusia diberi anugrah oleh Tuhan YME untuk berkehidupan di dunia ini dengan masing-masing keunikan yang telah diberikannya. Kita hidup sebagai manusia pasti saling membutuhkan untuk melengkapi kebutuhannya satu sama lain. Oleh karena itu dalam berkehidupan kita didukung untuk selalu berinteraksi antar sesamanya. Berinteraksi yang baik sangat diperlukan agar tercipta kehidupan yang baik, dimana kita nantinya akan bekerja sama untuk melengkapi setiap kekurangan dari tiap individu. Dalam keadaan saling melengkapi disini berarti kita ditutut untuk mencapai suatu tujuan bersama. Tujuan bersama ini mendorong adanya ikatan bersama yang seimbang untuk terbentuknya sebuah organisasi.
                Dalam kenyataannya suatu organisasi seringkali tidak bejalan sesuai dengan harapan, disebabkan keengganan manusia untuk mengikuti perubahan, dimana perubahan dianggap bisa menyebabkan kegagalan. Hal ini mengakibatkan kecondongan dalam organisasi sehingga perlu dilakukan evaluasi, adaptasi, dan inovasi dalam setiap organisasi. Semua organisasi harus berubah karena adanya tekanan di dalam lingkungan internal maupun eksternal. Walaupun perubahan yang terjadi lebih pada lingkungan, namun pada umumnya menuntut perubahan lebih pada organisasional, dan organisasi-organisasi bisa melakukan lebih banyak perubahan ataupun lebih sedikit. Organisasi-organisasi bisa merubah tujuan dan strategi-strategi, teknologi, desain pekerjaan, struktur, proses-proses, dan orang. Perubahan-perubahan pada orang senantiasa mendampingi perubahan-perubahan pada faktor-faktor yang lain. Proses perubahan pada umumnya mencakup sikap dan perilaku saat ini yang siknifikan perubahan-perubahannya dan akhirnya kepemilikan sikap dan perilaku yang baru.
               
Tulisan ini didasarkan pada pemantauan saya pada beberapa perusahaan yang bergerak dalam sektor industri manufaktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN), untuk mengulas permasalahan yang dihadapi sektor ini ditinjau dari sudut pandang ekonomi manajerial. Saya akan gunakan beberapa contoh permasalahan organisasi dalam perusahaan. Dengan keterbatasan ruang yang tersedia, tulisan ini tentunya hanya mengulas permasalahan pokok yang dihadapai sektor ini yang diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi peningkatan daya saingnya dikemudian hari. Tulisan ini juga menyinggung beberapa permasalahan manajerial dalam pengelolaan perusahaan yang hangat dibicarakan belakangan ini.

II. Permasalahan      

Dilihat dari aspek struktur organisasi perusahaan, kegiatan berproduksi pada sebagian besar industri manufaktur di Indonesia masih dikelompokkan dibawah "kotak" yang dinamakan Direktur Produksi. Sedangkan dengan berkembangnya informasi dan komunikasi serta dampak dari globalisasi, industry manufaktur di negara-negara maju telah menggunakan penamaan Direktur Operasi yang fungsinya adalah mengelola aspek desain, kualitas, sumber daya manusia, strategi proses, strategi lokasi, strategi lay-out, supply chain management (SCM), inventory management, scheduling, dan maitenance sebagai kesatuan yang terpadu.

Penulis berpendapat bahwa industri manufaktur di Indonesia perlu segera mengadopsi perubahan paradigma baru (sebenarnya sudah cukup lama) ini, karena apabila tetap menggunakan penamaan Direktur Produksi, banyak sekali keputusan yang tertunda karena decision flow menjadi terhambat, apalagi bila terdapat birokrasi yang berlebihan dalam suatu organisasi. Melalui pemusatan tanggung jawab dibawah satu orang, borderless organization akan terbentuk dan pelaksanan kegiatan operasi menjadi sangat efisien. Demikian pula dengan penamaan/penugasan Direktur Operasi, masalah Engineering, Procurement, Construction, yang menjadi masalah pokok pada sector industry manufaktur di BUMN dapat dieliminir. Itulah sebabnya dalam system Statutory Law yang berlaku di Amerika Serikat misalnya, kita mengenal istilah/peran dari apa yang dinamakan Chief Operations Officer (COO).

 

III. Landasan Teori

Organisasi berasal dari bahasa Yunani organon yang berarti alat. Organisasi adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies),perilaku organisasi (organizational behaviour) atau analisa organisasi (organization analysis). Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang,material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi.

Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi yang baik, seperti pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggotanya sehingga menekan angka pengangguran. Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus. Keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup melainkan sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.

Dalam berorganisasi setiap individu dapat berinteraksi dengan semua struktur yang terkait baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung kepada organisasi yang mereka pilih. Supaya interaksi berjalan secara efektif setiap individu bisa berpartisipasi pada organisasi yang bersangkutan. Dengan berpartisipasi setiap individu dapat lebih mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan hal apa yang sebaiknya dihindari.

Definisi partisipasi adalah keterlibatan mental atau pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan. Dalam berorganisasi para anggotanya dituntut untuk aktif berperan serta. Keterlibatan aktif dalam berpartisipasi, bukan hanya berarti keterlibatan jasmaniah semata, melainkan juga dapat berpartisipasi dalam bentuk keterlibatan mental, pikiran, dan emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan. Menuruth Keith Davis ada tiga unsur penting partisipasi, yaitu :

1.       Unsur pertama, bahwa partisipasi atau keikutsertaan sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.

2.       Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Hal ini berarti, bahwa terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok.

3.       Unsur ketiga adalah unsur tanggung jawab. Unsur tersebut merupakan unsur yang menonjol dari rasa menjadi anggota. Hal ini diakui sebagai anggota artinya ada rasa “sense of belongingness”.

Organisasi yang terdiri dari anggota tentu saja pasti ada masalah di dalamnya, karena tidak semua pendapat dan keinginan manusia sama. Tetapi itu bukan halangan untuk membuat sebuah organisasi berkembang, karena segala sesuatu pasti ada solusinya, termasuk masalah perbedaan pendapat. Beberapa contoh masalah dalam organisasi antara lain adalah :

·         Koordinasi dalam program kerja : jika koordinasi dengan antar anggota organisasi kurang baik, maka program kerja yang sudah dicanangkan bisa saja kurang sukes.

·         Koordinasi dengan pimpinan : terkadang sebagai anggota ada rasa takut atau sungkan untuk sharing atau konsultasi dengan pimpinan, dan akhirnya anggota mengambil inisiatif sendiri yang kurang sesuai dengan aturan organisasi yang bersangkutan.

IV. Pembahasan Masalah

Masalah Organisasi, Hukum, dan Good Corporate Governance

Dilihat dari aspek struktur organisasi perusahaan, kegiatan berproduksi pada sebagian besar industri manufaktur di Indonesia masih dikelompokkan dibawah "kotak" yang dinamakan Direktur Produksi. Sedangkan dengan berkembangnya informasi dan komunikasi serta dampak dari globalisasi, industry manufaktur di negara-negara maju telah menggunakan penamaan Direktur Operasi yang fungsinya adalah mengelola aspek desain, kualitas, sumber daya manusia, strategi proses, strategi lokasi, strategi lay-out, supply chain management (SCM), inventory management, scheduling, dan maitenance sebagai kesatuan yang terpadu.

Penulis berpendapat bahwa industri manufaktur di Indonesia perlu segera mengadopsi perubahan paradigma baru (sebenarnya sudah cukup lama) ini, karena apabila tetap menggunakan penamaan Direktur Produksi, banyak sekali keputusan yang tertunda karena decision flow menjadi terhambat, apalagi bila terdapat birokrasi yang berlebihan dalam suatu organisasi. Melalui pemusatan tanggung jawab dibawah satu orang, borderless organization akan terbentuk dan pelaksanan kegiatan operasi menjadi sangat efisien. Demikian pula dengan penamaan/penugasan Direktur Operasi, masalah Engineering, Procurement, Construction, yang menjadi masalah pokok pada sector industry manufaktur di BUMN dapat dieliminir. Itulah sebabnya dalam system Statutory Law yang berlaku di Amerika Serikat misalnya, kita mengenal istilah/peran dari apa yang dinamakan Chief Operations Officer (COO).

Berbicara mengenai Officer, ada satu hal yang aneh dengan pengelola BUMN saat ini, yaitu penggunaan kata Officer bagi Direksi BUMN. Apabila kita mengkaji Undang-undang No.1 tahun 1995 tetang Perseroan Terbatas dan Undang-undang No. 19 tahun 2003 tentang BUMN, kita tidak akan menemukan istilah Officer. Undang-undang No. 1 tahun 1995 menganut Two Board System, dimana terjadi pemisahan yang jelas antara Direksi dan Komisaris. Sedangkan Statutory Law menganut One Board System di mana dalam Board ini duduk para Direktor dan Komisaris; untuk menjalankan pengelolaan perusahaan sehari-hari Board of Directors menunjuk para Officers, yang diberi kekuasaan penuh untuk mewakili perusahaan. Member of The Board juga dapat dipilih menjadi Officer termasuk Chief Executive Officer (CEO).

Yang saya maksudkan dengan aneh adalah peristiwa pemilihan dan penobatan CEO terbaik di Indonesia baru-baru ini. Barangkali dengan maksud merangsang prestasi seorang Direktur Utama BUMN, beberapa minggu yang lalu telah dilakukan pemilihan Chief Executive Officer terbaik (maksudnya mungkin Direktur Utama terbaik?) di Indonesia. Tidak tangung-tangung, penganugrahan CEO terbaik ini (menurut berita) diserahkan oleh Presiden Megawati sendiri. Padahal sebagaimana disebut diatas, kita tidak menganut apa yang dinamakan Officer. Mengapa tidak memilih Direktur Utama terbai saja, misalnya; atau mungkin istilah Direktur Utama kalah gagah kedengarannya dari CEO? Kalau memang demikian, ganti saja sistemnya menjadi One Board System. Dikuatirkan pencampuradukan istilah CEO dengan Direktur Utama ini, dapat mengganggu prinsip Good Corporate Governance (yang sangat gencar dikumandangkan), mengingat keduanya menganut dsar hukum yang berbeda.

 Masalah Biaya dan Pendanaan

Industri manufactur pada umumnya adalah industri padat modal dan mempunyai operating leverage (rasio antara biaya tetap dan biaya variabel total) yang tinggi. Sebagai industri padat modal (pada umumnya), sebuah industry manufaktur harus menekan biaya variabel serendah-rendahnya. Oleh karena itu (mengingat biaya variabel yang antara lain mencakup biaya buruh langsung), adalah sangat naif pendapat yang mengatakan bahwa suatu industri padat modal sekaligus dapat menjadi industri padat karya. Kecuali apabila nilai tambah(diukur dari contribution margin) sanngatlah tinggi (misalnya, diatas 75%). Apabila prinsip ini tidak dipahami sepenuhnya, maka resikonya adalah sebuah perusahan industri manufaktur akan sangat sulit mencapai Break-Even Point. Resiko ini makin besar lagi mengingat fluktuasi pencapaian penjualan sebuah industri manufaktur (by nature) sangat tinggi dari waktu ke waktu.

Banyak industri manufaktur yang menghasilkan industrial goods, yaitu produk yang kegunaanya tidak untuk dikonsumsi, tetapi untuk dioperasikan mencari uang lagi, seperti kapal, pesawat terbang, taksi, dan sebagainya. Bagi perusahaan yang berbisnis dalam produk ini, maka tersedianya paket kredit ( baik kredit dalam negeri maupun kredit eksport) sangat dibutuhkan untuk menciptakan penjualan. Secanggih apapun industrial goods, tanpa fasilitas kredit/kredit ekspor, transaksi untuk menciptakan sales sangatlah sulit terjadi.

·         Masalah Kemampuan Penguasaan Cross-Functional Area

Total Quality Management, misalnya, masih belum menjadi agenda penting dalam pertemuan RUPS pada beberapa BUMN walaupun topik ini sangat penting bagi industri manufaktur; rapat lebih banyak memfokuskan diri pada aspek keuangan saja, yaitu laba atau rugi. Demikian pula, kita tahu bahwa hidup matinya sebuah perusahaan tergantung pada empat perspektif utama, yaitu: prespektif pemasaran, operasi/produksi, keuangan, dan learning organization & pertumbuhan. Dalam lingkungan yang bersaing, kemampuan untuk menguasai keempat prespektif ini sangat diperlukan. Oleh sebab itu, pengelola BUMN harus mempunyai expertise yang cross-functional. Dari hasil penelitian para pakar manajemen disimpulkan bahwa kemampuan menguasai keempat perspektif ini sudah menjadi persyaratan bagi pimpinan perusahaan masa depan, sebagaimana ditulis dalam sebuah artikel berjudul "The Business Leader of the Future" (Harvard B-School, Business Week, July 19, 1993).

·         Masalah kepemimpinan

Dari semua industri penghasil produk dan jasa, learning process paling banyak terjadi di sektor industri manufaktur; oleh sebab itu dari pemimpin perusahaan sektor industri ini sangat dibutuhkan:

a.       Pemimpin yang mampu mengatasi konflik antar fungsi-fungsi manajemen yang (lag-lagi by nature) adalah ciri khas dari sektor Industri ini. Kemampuan ini hanya dapat dimiliki oleh seorang pemimpin sektor industry manufaktur apabila ia menguasai cross-functional area sebagaimana disebut diatas.

b.       Pemimpin yang visonary, yang mampu menyelaraskan visi, misi, tujuan strategi dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap kebijakan perusahaan. Hanya dengan cara ini budaya profesional dapat timbul pada BUMN kita.

Sehingga untuk mensiasati masalah ini bias dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya:
1.       Membentuk suatu system informasi yang terstruktur, agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi. Misalnya, dengan membuat papan pengumungan atau pengumuman melalui loudspeaker.
2.       Buat komunikasi dua arah antara atasan dan bawahan menjadi lancer dan harmonis, misalnya dengan membuat rapat rutin, karena dengan komunikasi yang dua arah dan intens akan mengurangi masalah di lapangan.
3.       Beri pelatihan dalam hal komunikasi kepada atasan dan karyawan, pelatihan akan memberikan pengetahuan dan ilmu baru bagi setiap individu dalam organisasi dan meminimalkan masalah dalam hal komunikasi.

Biasanya masalah timbul karena lingkungan yang kurang kondusif di suatu perusahaan. Misalnya, kondisi cahaya yang kurang, atau sirkulasi yang kurang baik, dan temperature ruangan yang tinggi sangat mungkin untuk meningkatkan emosi seseorang, jadi kondisi dari lingkungan juga harus di perhatikan
Konflik dalam perusahaan juga sering terjadi antar karyawan, hal ini biasanya terjadi karena masalah diluar perusahaan, misalnya tersinggung karena ejekan, masalah ide yang dicuri, dan senioritas. Perusahaan yang baik harus bisa menghilangkan masalah senioritas dalam perusahaan. Hal ini dapat meminimalisir masalah yang akan timbul, kerena dengan suasanya yang harmonis dan akrab maka masalah akan sulit untuk muncul.
V. Penutup

V.I. Kesimpulan

                Organisasi dalam arti statis dan organisasi dalam arti dinamis. Terdapat hubungan yang erat antara manajemen , organisai dan metode (tata kerja). Manajemen , organisai dan tata kerja ketiganya diarahkan kepada tercapainya tujuan secara efisien .
Terdapat hubungan yang erat antara manajemen, organisasi dan tata kerja yang ketiganya diarahkan kepada tercapainya tujuan bersama secara efisien. Proses mempengaruhi pengambilan keputusan. Proses-proses ini juga merupakan proses-proses organisasional karena lebih penting daripada manajer individual dalam pengaruhnya pada pencapaian tujuan-tujuan organisasi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa organisasi memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam bidang tata kerja dan tidak hanya itu organisasi, manajemen, dan tata kerja juga memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam hal ini dapat saya simpulkan bahwa organisasi, manajemen, dan tata kerja tidak dapat dipisahkan karena memiliki keterkaitan satu sama lainnya.

V.II. Saran

Menurut saya organisasi dan metode sangat berperan penting dalam perusahaan atau dll, karena dengan adanya organisasi dan metode dalam setiap pelaksanaanya akan lebih terarah dan mencapai tujuan yang sesuai dengan rencana. Walaupun di setiap organisasi memiliki cara dan metode yang berbeda-beda karena di sesuaikan dengan rencana dan keputusan anggota tetapi dari itu semua akan tetap sama dan menghasilkan sesuatu yang sempurna tentunya dengan kerjasama dalam organisasi tersebut dan berjalan sesuai yang telah disepakati/dirembuk bersama-sama.

Hendaknya dalam mendirikan sebuah organisasi benar-benar direncanakan dengan seksama, guna mencapai visi dan misi yang dijunjung dalam organisasi. Dan dalam proses perjalanannya, organisasi yang sudah didirikan harus benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai yang terus berkembang di masyarakat. Sehingga organisasi yang didirikan dapat bertahan seiring berjalannya waktu.